Salah satu metode pendidikan yang tercermin dari syariat yang mulia ini adalah metode pembiasaan (at-Ta’wiid) mendidik anak-anak akan akhlak yang baik semenjak mereka masih kecil, hal ini tercermin dari uslub (metode) pengulangan yang kerap kali terlihat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah, sebuah metode pendidikan yang sangat penting guna menanamkan dasar-dasar agama dan akhlak yang mulia.
Dalam al-Qur’an misalnya, Allah -azza wa jalla- mengulang:
فبأي آلاء ربكما تكذبان
Sebanyak 30 kali dalam surat ar-Rahman, begitu pula Dia mengulang:
ويل يومئذ للمكذبين
Sebanyak 9 kali dalam surat al-Mursalat.
Dari sahabat Anas bin Malik, dia mengatakan:
“Bahwasanya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- apabila mengucapkan suatu kalimat beliau mengulangnya sebanyak 3 kali agar orang-orang memahaminya, dan apabila beliau -shallallahu alaihi wasallam- datang ke suatu kaum, lalu beliau mengucap salam, maka beliau akan mengulang ucapan salam sebanyak 3 kali.” (HR.Bukhari no.6244).
Penyair mengatakan:
وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ، مِنَّا *** عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوهُ
“Anak-anak kami akan tumbuh besar ### Sesuai dengan apa yang dibiasakan oleh orang tuanya.
Ternyata, pengaruh kebiasaan tidaklah sepele, namun memiliki kontribusi besar bagi genarsi dan anak-anak kita dalam mempraktekkan agama, akhlak dan adab yang baik.
Sebagaimana sebuah keberhasilan tak bisa didapatkan secara instan, melainkan dengan membaiasakan perilaku-perilaku baik secara terus-menerus:
“Success is the product of daily habits not once in a lifetime transformations.” (Kesuksesan adalah hasil dari kebiasaan harian, bukan perubahan besar yang terjadi sekali seumur hidup)
Dua hal yang terlintas terkait hal yang berkaitan dengan membiasakan anak-anak kita berucap dan berbahasa yang baik, mungkin saja bisa menjadi bahan renungan:
Membiasakan anak-anak kita untuk bertanggung jawab dan mengetahui dampak dari ucapan yang mereka ucapkan, apa yang diucapkan memiliki konsekwensi dan akibat untuk dirinya, untuk orang lain baik di dunia maupun di akhirat:
ما يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إلاّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidaklah seseorang mengucap sesuatu melainkan ada malaikat yang selalu mengawasi dan selalu hadir.”
Termasuk juga di sini apa yang kita tulis, apa yang kita ukir dengan pena menggunakan tangan-tangan kita, dampaknya akan kita tanggung dan konsekwensinya akan kita pertanggung jawabkan. Ibnu Katsir mengatakan:
إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“…ada malaikat yang selalu mengawasai dan selalu hadir.”
Yaitu ada malaikat yang selalu memonitor, mengawasi dan ready setiap saat, malaikat itu tidak mengecualikan satu kata ataupun satu gerakan (melainkan akan dicatat).”
Terutama dengan dinamika interaksi sosial di zaman modern dewasa ini, dengan munculnya berbagai bentuk media-media sosial yang begitu cepat menjadi sarana menyebarkan tulisan, ucapan dan apapun yang ingin di-share dan disebarkan oleh orang-orang, dan realita menjadi bukti bagaimana banyak “masalah” yang muncul yang kita lihat dan kita baca awalnya adalah tidak memperhatikan dampak ucapannya, konsekwensi dari apa yang sedang dilakukannya.
Memebiasakan anak-anak kita untuk berbicara dengan kalimat, bahasa dan ucapan yang baik tidak mengandung ucapan yang kasar, keras dan menyakiti perasaan orang lain.
Penyair mengatakan:
وَ قَدْ يُرجى لِجُرحِ السيفِ برءٌ### وَ لا برءٌ لِما جَرَحَ اللسانُ
جِراحات السِّنانِ لها التِئامٌ### وَ لا يلتامُ ما جَرَحَ اللسانُ
وَ جرحُ السيفِ تدملُهُ فَيَبْرى### وَ يبقي الدهرُ ما جَرَحَ اللسانُ
“Luka dengan pedang akan sembuh ### akan tetapi luka akibat lisan (terkadang) tak akan sembuh
Luka akibat sayatan tombak bisa sembuh ### akan tetapi sayatan lidah (terkadang) tak terobati
Luka sayatan pedang terlihat bekasnya sehingga gampang sembuh ### namun luka sayatan lisan (tak terlihat) sehingga sayatan/luka itu tetap abadi sepanjang masa.”
Syariat menyuruh kita untuk mengucapkan kalimat dan bahasa yang baik, dan ucapan yang baik mencakup juga kalimat dan bahasa yang digunakan. Kalau ada bahasa yang “sejuk” untuk mengungkapkan apa yang diinginkan, mengapa memilih bahasa dan ungkapan yang “panas” dan mengusik hati…?
Allah -azza wajalla- mengatakan:
وقولوا للناس حسنا
“Ucapkanlah kepada manusia ucapan yang baik-baik.”
والقول الحسن يشمل الحسن في هيئته أن يكون باللطف واللين وعدم الغلظة والشدة
“Ucapan yang baik mencakup cara menyampaikan ucapan itu yaitu dengan cara yang lembut, santun dan tidak mengandung kalimat yang kasar dan keras..”(Tafsiir Ibn Utsaimin:3/196).
Wallohu a’lam.

0 Response to "Ucapan yang Baik"
Posting Komentar
Pertanyaan dan komentar, akan kami balas secepatnya-insyaallah-.